Tidak hanya penyakit yang bisa menular atau menjangkiti manusia tapi juga emosi. Emosi dari diri kita juga bersifat menular, memberi efek ke diri kita tapi juga orang lain, dan emosi itu sendiri juga dapat membawa perubahan. Saya ingin lebih membahas bagaimana emosi itu bisa menular dari seseorang ke orang lain. Emosi yang disebut emosi negatif dan emosi positif sama-sama berpeluang besar mempengaruhi suasana hati, pikiran atau tindakan orang lain. Daniel Goleman seorang penulis dalam buku terkenalnya “Emotional Intellegence” menulis “salah satu faktor yang memperkuat respons otak pada kenyataan virtual, seperti misalnya bioskop, adalah momen kemencolokkan perseptual dan momen yang kuat secara emosi, seperti berteriak atau menangis”. Memang jelas bahwa sebagai social beings kita telah dibentuk dengan memiliki sensitifitas dan rasa empati yang secara natural ada dalam diri kita. Faktor itu yang juga berpengaruh besar terhadap menularnya emosi dari orang lain terhadap diri kita. Disaat tetangga kita berbahagia, kita juga turut bahagia, di saat kita bersedih karena masalah atau bencana orang tetangga kitapun akan tergerak untuk menghibur dan menawarkan bantuan terhadap kita. 
 
Hampir tiga tahun berdomisili di Jerman saya begitu merasakan jelas perbedaan-perbedaan mencolok yang menjadi gaya hidup bersosial orang-orang di negeri ini dan di negara saya sendiri. Saat mengamati para pejalan kaki yang berpapasan di jalan, hal yang paling mencolok yang saya amati adalah orang-orang saling melempar senyum dan menyapa “hallo” satu sama lain. Terlihat betapa senyum dan kata hallo itu menjadi sesuatu yang bernilai yang secara tidak langsung memberi pengaruh terhadap suasana hati orang yang disapa. Mungkin saat itu orang-orang itu tidak dalam suasana hati yang menggembirakan tapi efek saling senyum itu jelas memberikan sentuhan terhadap orang yang disapa.

Seorang pelayan gereja pada suatu hari Minggu menyapa saya dan sempat berkata bahwa dia mengamati bagaimana langkah saya memasuki gedung gereja dengan senyum yang khas itu membuat dia merasakan efek dari kesejukan hati itu. Betapa saya tidak pernah menyadari bahwa senyum yang “sangat normal” dalam pikiranku itu menjadi satu efek yang positif terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya.

Dalam hal menghadapi masalah, pasangan suami istri mungkin cenderung mengalami kesulitan saat salah satu misalnya istri terlalu emosional atau mudah marah dalam merespon masalah tersebut, kemungkinan suami akan merespon hal yang sama juga dengan marah, kecewa, atau menarik diri. Sebaliknya dalam masalah besar, seorang istri bisa dengan mudah meredahkan masalah saat respon itu diubah menjadi ketenangan, kesabaran dan dengan dingin, secara psikologis pikiran dan perasaan suami juga dengan sendirinya akan lebih tenang. Emosi positif dapat mengubah satu bencana besar menjadi kebahagiaan, sebaliknya emosi negatif dapat mengubah satu kebahagiaan menjadi bencana.

Sang Buddha Gautama mengatakan kepada murid-muridnya: "menjadi marah adalah sedemikian bodohnya sehingga sulit dipahami orag yg cerdas bisa melakukannya. Orag lain melakukan hal yang sama dan anda marah? Dia boleh melakukan sesuatu yang salah, ia boleh jadi mengatakan sesuatu yang tidak benar, ia boleh jadi berupaya untuk melecehkan anda, menghina anda, tetapi itulah kebebasan dia. Jika anda bereaksi, anda adalah seorang budak. Jika anda mengatakan kepada orang itu 'adalah kegembiraanmu untuk menghinaku, adalah kegembiraanku untuk tidak marah', maka sesungguhnya anda sudah berperilaku sebagai seorang master".
 
By Esther Lumintang