![]() |
| Picture : copy from quantumikhlas |
Banyak orang memiliki dambaan pekerjaan,
posisi atau kedudukan tertentu di satu bagian atau keahlian di suatu bidang.
Banyak yang begitu bersusah payah untuk mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya
sampai ada yang rela berkorban tenaga dan materi untuk mendapatkan pekerjaan
atau kedudukan tertentu. Dan itu bukanlah hal yang salah saat seseorang
memperjuangkan apa yang ingin ia capai. Sayangnya banyak orang
yang
setelah mendapatkan pekerjaan itu jutru seiring berjalannya waktu tidak lagi
merasa antusias dengan pekerjaannya. Semua terasa normal, berjalan seperti
rutinnya, melakukan pekerjaan dengan asal-asalan, tidak produktif lagi, bahkan
terasa membosankan. Hal itu terjadi pada orang-orang yang hanya termotivasi
karena kepentingan uang, demi pengakuan dari orang lain, popularitas dan
kenyamanan hidup. Beberapa orang sukses yang dalam pengalamannya pasti
menceritakan bagaimana mereka menyenangi pekerjaan mereka, memiliki motivasi
yang bernilai tinggi, disiplin, konsisten dan berdedikasi tinggi terhadap apa
yang dia geluti.
Pengalaman saya saat bekerja di salah satu
Altes Heim (rumah orang tua) di Jerman, saya dituntut untuk bisa konsisten dan
disiplin tinggi untuk pekerjaan saya. Kami harus memulai dinas pagi pada pukul
06:30 dan itu berarti sebelum 06:30 saya harus berada di tempat kerja dan
memiliki waktu untuk mengganti pakaian. Untunglah bahwa tempat tinggal saya
tidak jauh dari tempat kerja dan hanya membutuhkan waktu maksimal 15-20 menit
perjalanan. Walaupun begitu setiap jadwal dinas pagi saya harus bangun pukul
05.00 pagi dan 'buruknya' disaat winter suhu udara selalu berada di bawah 5
derajat, dan itu sangat menantang buat saya dan sayangnya tidak ada alasan
untuk tidak berangkat kerja ataupun terlambat. Banyak pelajaran menarik yang
saya pelajari dalam dunia kerja di negara ini. Salah satunya adalah masalah
kedisiplinan. Mungkin di Indonesia terlambat tidak begitu menjadi masalah besar
dalam pekerjaan tapi disini terlambat bisa berpengaruh secara official dan dalam hal kepercayaan orang
lain terhadap kita, dalam hal ini disiplin adalah hal yang sangat penting dalam
dunia kerja dan juga secara umum di negara ini.
Satu hal yang tidak kalah menarik adalah “konsentrasi”,
orang-orang disini bekerja dengan ketelitian dan konsentrasi tinggi, mereka
tidak ingin lalai dalam pekerjaan, karena mereka juga dituntuk untuk
bertanggungjawab penuh. Karena itu konsentrasi sangat diperlukan. Kalau mungkin
di negara berkembang, banyak orang yang hanya secara fisik berada di kantor
tetapi pikiran dan konsentrasinya berada di hal lain.
Awalnya saya sangat mengalami kesusahan dalam beradaptasi dengan
dunia kerja di sini karena saya tidak begitu terbiasa secara konsisten dengan
hal-hal "sulit" itu. Tapi tidak ada cara lain yang menolong saya
sampai saya berusaha untuk menyenangi pekerjaan ini dan melakukannya dari hati.
Banyak hal terasa lebih mudah. Menjadi disiplin, konsisten dan produktif dalam
dunia kerja ternyata tidaklah berat ketika kita melakukannya secara tulus dan
menyenangkan. Seperti kata aktivis
anti rasialisme dari Amerika Serikat Martin Luther King
Jr "Jika seseorang terpanggil menjadi
tukang sapu jalan, hendaknya iya menyapu jala sebagaimana Michaelangelo melukis atau Bethofen mencipta musik atau Shakespeare menulis puisi. Hendaknya ia menyapu jalan dengan sangat baik sehingga segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, disini tinggal seorang penyapu jalan yang agung, yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik."
Dalam pekerjaan apapun, bahkan "sekecil" apapun itu, menemukan suatu nilai dan tujuan positiv
dari pekerjaan itu adalah akar untuk berkembang dan bahagia dengan apa yang
kita tekuni.
“If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as a Michelangelo
painted, or Beethoven composed music or Shakespeare wrote poetry. He should
sweep streets so well that all
the hosts of heaven and earth will pause to say, 'Here lived a great street sweeper who did his job well.”
Martun Luther King Jr
By Esther Lumintang

0 Comments