hipwee.com


Seorang wanita berumur kurang lebih 40-an tahun memimpin satu bagian klinik dikenal oleh hampir seluruh karyawan di sana sebagai pemimpin otoriter, ditakuti oleh sebagian besar karyawan dengan semua keputusan-keputusan ekstrimnya yang cenderung kadang tidak manusiawi. Hal ini begitu membuat geram salah satu teman yang kebetulan adalah salah satu karyawan di klinik ini. Dari hari ke hari perlakuan wanita ini menjadi topik pembicaraan dalam berbagai waktu senggang. Mendengar cerita-cerita ini sempat mumbuat saya begitu bertanya-tanya alasan seorang wanita ini yang dikenal memiliki intelegensi dan pendidikan yang tinggi tapi sama sekali tidak pemperlihatkan nilai-nilai yang baik dari kepemimpinannya. Sampai akhirnya teman ini menceritakan perjalanan hidup wanita ini bahwa di usia remaja dia mengalami kesulitan hidup yang berat secara finansial, dan kesulitan itu dilanjutkan saat dia harus kehilangan anak satu-satunya yang berusia masih sangat muda, dan beberapa tahun kemudian disusul oleh suaminya yang meninggal karena sakit berat. Kesulitan hidup yang bertubi-tubi di usia yang masih sangat muda membuatnya pada akhirnya mencoba mengalihkan semua kesedihan itu pada pekerjaan dan karirnya. Kesulitan dan kesendirian yang tak terkendalikan itu pada akhirnya berefek dan terlampiaskan pada kepemimpinan yang buruk yang mungkin secara tidak sadar dia lakukan.

Pada dasarnya kepemimpinan secara otoriter dan tidak manusiawi memang tidak seharusnya ada dalam organisasi manapun. Namun hal yang ingin saya fokuskan dalam kasus ini adalah bagaimana kita cenderung menilai dan men-judge  bahkan memusuhi orang dengan cepat tanpa berusaha mengenal lebih dalam latar belakang kehidupannya atau mungkin alasan mereka melakukan hal negatif itu. Bukan berarti kita harus tolerir terhadap sesuatu yang negatif dan mendukung itu, namun seharusnya kita belajar bagaimana melihat dari kaca mata yang lain dan berusaha untuk tidak membenci orangnya dan memusuhinya. Tidak semua orang mampu bertahan dengan situasi sulitnya dan mempergunakannya untuk menjadi lebih dewasa dan lebih baik. Dalam banyak hal, masalah-masalah hidup juga cenderung membawa manusia pada pilihan hidup yang salah yang membuat mereka terlihat bodoh, jahat atau egois.

Seperti layaknya anak-anak dengan pergaulan bebas, pembuat kekacauan sana sini, atau mungkin harus putus sekolah, setelah ditelusuri mereka berasal dari keluarga Broken Home atau mungkin pendidikan yang salah dengan kekerasan fisik dan psikis. Mereka sebenarnya bukan manusia-manusia yang memang menginginkan kekacauan dan kegagalan, tapi mereka diharuskan mengalami fase-fase hidup yang berat diusia yang masih sangat muda dengan kematangan berpikir yang masih sangat rendah yang seharusnya mendapatkan pertolongan secara fisik dan emosional. Tapi kenyataan yang terjadi anak-anak yang dicap sebagai “anak nakal” ini cenderung disisikan, diisolasi, dijauhi dan dianggap tidak berpotensi dan punya masa depan di tengah kehidupan sosialnya. Seandainya kita melihat anak-anak ini dari kaca mata yang lain, maka mungkin kita akan berada pada kesimpulan bahwa mereka seharusnya mendapatkan pendekatan yang khusus dengan diterima dan mendapatkan empati untuk melepaskan trauma masa lalu dan pendidikan yang layak.
 
wixsite.com
Sulit memang mengubah penilaian kita terhadap seseorang yang kita kenal negatif atau mungkin sebagai orang yang tidak kita sukai karena kelakuannya. Tapi dengan melihat dari kacamata berbeda, mencoba untuk mengerti masa lalu, atau latar belakang kehidupan orang lain mungkin akan membantu kita untuk lebih tolerir dengan tidak membenci atau bahkan memusuhi orang itu. Melalui itu kita bisa lebih muda untuk bergaul dengan lingkungan manapun, kita mungkin bisa membantu mendapatkan cara terbaik untuk menyadarkan atau mengubah hidup orang-orang itu. Dengan belajar menerima, kita mungkin akan mampu mengubah pemikiran dan pandangan hidup seseorang.