Seorang anak muda menulis pesan pada mantan dosennya, pesan itu berisi tentang ucapan terima kasihnya kepada dosen tersebut yang telah membantunya melalui kuliahnya di jurusan yang sebelumnya dia ambil. Dalam kuliah tersebut sang dosen sempat menyampaikan bahwa ada dua cara untuk bisa menikmati pekerjaan dan mencapai kesuksesan. Pertama temukan di mana passion-mu dan berjuanglah untuk mendapatkannya, dan kedua berusahalah untuk mencintai apa yang kamu mulai (telah kamu pilih). Anak muda yang waktu itu duduk di semester awal kuliahnya begitu tersentak dengan nasihat dosen itu yang membawa dia pada keputusan untuk memperjuangkan mimpinya yang dia sembunyikan karena harus mengikuti keinginan orang tua, dalam hal ini dia begitu menginginkan untuk bisa menguasai bahasa asing dan suatu saat nanti menjadi seorang yang memiliki relasi dan bekerja dalam bidang diplomatic dengan orang asing. Tidak disangka, kuliah 2 jam itu benar-benar mengubah jalan hidupnya di mana beberapa waktu kemudian dia memutuskan untuk pindah jurusan bahasa dan keberanian itu ternyata membawa dia pada pekerjaan yang dia impikan dan menikmati hari-harinya dengan menyenangkan dalam profesi dalam dunia diplomatik itu.
Contoh kecil ini begitu membuktikan betapa pentingnya kita menggeluti satu pekerjaan yang benar-benar kita inginkan. Saat memutuskan bidang yang akan kita tekuni, maka seharusnya kita bersemangat untuk fokus, berdedikasi dan menikmati  pilihan itu. Menurut saya, sangat penting untuk memanfaatkan peluang untuk memilih dengan bijak di saat peluang itu ada.
Misalnya dalam hal jurusan pendidikan. Dalam pandangan saya, tidak salah juga orang-orang yang pada akhirnya memilih pekerjaan yang berbeda dengan jurusan pendidikan yang dilewati. Saya punya beberapa kenalan lulusan kesehatan tapi bekerja di bidang ekonomi atau bisnis. Ada teman lulusan ilmu kimia dan pada akhirnya menekuni bidang seni, ada yang lulusan ilmu politik tapi pada akhirnya terjun di dunia elektronik. Memang sangat baik bila orang menekuni pekerjaan sejalur dengan latar belakang pendidikannya. Dalam hal ini dia melanjukan dan mendalami apa yang dia mulai. Tapi ada banyak orang yang nanti menemukan bakat dan apa yang diinginkannya setelah dia menjalani proses atau fase yang mungkin kurang nyaman sehingga mengharuskan dia mencoba bidang lain, entah mungkin melalui iseng-iseng atau mengisi waktu luang. Dan pada moment ini mereka menemukan jiwa mereka dan mengubah jalan karir mereka.
Salah satu hal yang menarik di Jerman, banyak anak-anak lulusan SMA tidak langsung melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Mereka mengambil jeda dan memanfaatkan waktu ini untuk mengenal dunia kerja yang mereka rencanakan dengan cara praktek secara sukarela dan melalui proses ini mereka akhirnya mengenal dunia kerja yang akan mereka pilih dan menguji passion yang pas untuk mereka. Hal ini saya pikir langkah yang cukup baik untuk meyakinkan pilihan mereka sebelum melangkah memutuskan pendidikan yang akan ditekuni.
Di beberapa artikel yang saya baca menyebutkan bahwa salah satu variable yang sangat berpengaruh pada indeks kebahagiaan diusia produktif di Amerika adalah faktor stress kerja. Kebanyakan orang yang tidak puas dengan pekerjaannya, tidak menikmati profesinya dikarenakan oleh ketidakpuasan dengan lingkungan, jam kerja dan pekerjaan itu sendiri yang kurang dijiwai. Hal ini pada akhirnya berefek pada kesehatan secara psikologi dan fisik.
Kebanyakan orang memilih profesi dengan berorientasi pada standar orang lain, pekerjaan dianggap sebagai identitas sosial. Entah mengikuti hati kita atau tidak, yang penting kita dipandang tinggi secara sosial karena pekerjaan kita. Banyak orang berlomba-lomba menjadi politisi untuk mendapatkan pengakuan secara sosial tanpa melihat potensi dirinya. Yang penting punya uang, tidak penting panggilan hati untuk melayani. Banyak orang yang berprofesi dosen tapi tidak punya passion mengajar dan tidak mampu mendidik. Banyak orang yang bekerja di birokrasi pemerintah setiap hari harus melawan rasa malas dan menghadapi pekerjaan yang terbengkalai karena tidak punya semangat untuk mengerjakan tugasnya, mereka datang terlambat dan pulang lebih awal.
 
Memang tidak semua orang memiliki peluang yang sama untuk bisa memilih apa yang dia inginkan, termasuk dalam hal pekerjaan. Ada orang yang diharuskan untuk melewati masa yang sulit di mana dia harus bekerja di tempat yang mungkin bukan impiannya. Memang mungkin tidak ada pilihan untuk mengubah situasi, tapi kita memiliki pilihan untuk bagaimana kita menjalani dan menikmatinya. Sampai pada pekerjaan yang dianggap “sangat rendah”-pun, akan terasa bernilai jika kita bekerja dari hati. Seperti kata Martin Luther King Jr , “Jika Anda menjadi penyapu jalanan, Anda harus menyapu jalan layaknya Michelangelo melukis, sejenius Beethoven menggubah musik, atau seindah tulisan Shakespeare. Anda harus menyapu jalan begitu baik sehingga semua tentara surga dan bumi akan berhenti sejenak dan berkata, ‘Di sini tinggal penyapu jalanan yang melakukan pekerjaannya dengan sangat baik’.”
Menurut saya, bekerja adalah bagian dari ibadah dan ibadah itu harusnya memberi efek positif untuk diri kita, dan pekerjaan itu harus dinikmati dan disyukuri. Tidak penting penilaian orang lain, yang lebih penting adalah bagaimana kita menyenangi apa yang kita kerjakan dan memberi dampak.
Seperti bunyi doa bijak “Tuhan berikanlah aku pengetahuan untuk bisa mengetahui apa yang bisa aku ubah dari apa yang aku terima. Berikanlah kepadaku pengertian untuk bisa menerima apa yang tidak bisa aku ubah dan berikanlah aku kebijaksanaan untuk bisa membedakannya.” Semoga kita tetap belajar untuk berani mengubah semua hal yang bisa kita ubah, sampai sesuatu itu tidak bisa diubah, maka ubahlah pandangan kita.