idntimes
Banyak dari kita pasti pernah merasakan masa pacaran di usia remaja, yang cenderung memperlihatkan sikap yang sedikit ekstrim dan hal-hal yang terkesan bodoh yang kita anggap waktu itu adalah bagian dari cinta yang besar terhadap pasangan. Ada yang dengan alasan cinta harus bolos sekolah demi bersama dengan kekasih atau demi memperlihatkan bagaimana kepedulian kita terhadap pasangan. Saat memasuki usia dewasa, kita sering harus tertawa mengingat kebodohan yang kita lakukan waktu itu atau merasa hal itu terkesan lebay bila diingat. Pada saat itu kita benar-benar terlarut dalam asmara yang kita sebut cinta, dan tanpa logika kita berkorban untuk pacar, atau bertindak hal yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Dalam hal ini, cinta yang ada di waktu itu adalah cinta yang diperlihatkan tanpa pikiran dan pertimbangan yang logis yang sebenarnya bukan berarti cinta.
Banyak orang tua cenderung memenuhi semua keinginan anak tanpa menfilter hal-hal yang merugikan dan tidak bernilai dengan alasan untuk menyenangkan hati anak. Semua yang diminta dengan muda diberikan dengan alasan “sayang anak”. Banyak orang tua yang membatasi atau cenderung mengatur pilihan anak dengan alasan mereka lebih tahu yang terbaik untuk anak, tanpa memperdulikan keinginan anak. Banyak juga yang cenderung berusaha mencari lobi atau koneksi dengan tujuan supaya anak dipermudah dengan urusan dan memperoleh apa yang dia inginkan. Semua contoh-contoh di atas adalah bagian dari cara orang tua mengaplikasikan rasa sayang terhadap anak-anak yang sebenarnya kurang tepat untuk pendidikan pada anak.
Mengutip doa seorang Jenderal perang Douglas Mc Arthur untuk anaknya : “… Tuhanku.. Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan. ….”. Mendengar kutipan doa itu, mungkin terkesan kurang tepat saat seorang ayah memohon kesulitan hidup untuk anaknya, yang sebenarnya adalah bagian dari cinta sang ayah untuk mempersiapkan anaknya untuk bertahan dalam dunia yang sulit.
Seperti salah satu film inspiratif yang berjudul “My Sister’s Keeper” menceritakan tentang pasangan suami istri yang sangat menharapkan kesembuhan anak perempuan mereka yang menderita Leukimia pada usia 3 tahun. Sulitnya mendapatkan donor ginjal untuk mempertahankan hidup anak mereka, membuat pasangan ini pada akhirnya memilih jalan untuk melakukan proses bayi tabung dengan rekayasa gen yang nantinya akan cocok menjadi pendonor untuk anak sulung mereka ini. Singkat cerita, bayi yang diberi nama Kate inipun lahir, dan seperti yang direncanakan, masa kecilnya pun harus dihabiskan di rumah sakit karena harus melalui beberapa tranfusi yang dibutuhkan kakak yang menderita Leukimia itu. Sampai Kate beranjak usia 11 tahun dan menyadari bahwa fokus orang tuanya benar-benar tertuju pada kakaknya dan membuat dia dan saudara laki-lakinyapun terabaikan. Mereka kurang mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup, dan hal ini berpuncak saat dia menyadari kelahirannya direncanakan hanya untuk menjadi pendonor ginjal untuk kakaknya. Pesan moral yang bisa ditangkap dalam cerita ini, bagaimana perasaan cinta itu bisa membawa manusia dalam hal ini orang tua pada pikiran-pikiran yang kurang logis, mengabaikan orang lain, bahkan terkesan jahat dan jauh dari keadilan. Kerinduan pasangan ini untuk mempertahankan anak mereka ternyata membuat mereka menutup mata terhadap hak hidup anak yang lain dan bahkan terkesan tidak manusiawi.
Saya sempat mengutip kalimat salah satu dosen saya bahwa manusia bisa saja menjadi makhluk yang luar biasa penuh cinta, tapi sisi lain bisa juga menjadi makhluk yang bahkan sangat brutal melebihi kelompok makhluk hidup yang lain. Kadang kita mengungkapkan cinta kita dengan cara yang salah bahkan justru merugikan orang yang cintai.

Yang membedakan cinta yang ada pada hewan dan cinta manusia yaitu bahwa manusia dilengkapi dengan akal dan bijaksana untuk mengungkapkan dan mengaplikasikan cinta itu. Dalam hal ini yang sebenarnya yaitu cinta yang meskipun menyakitkan tapi untuk kebaikan, cinta tidak hanya sebatas kesenangan kita dan mengabaikan kebaikan orang lain,  tidak membawa kerugian untuk pihak manapun, cinta harus bisa mendidik, cinta bukan hanya sebatas pada hal yang membahagiakan, dan wujud cinta juga adalah merelakan. Tidak selamanya mencintai seseorang harus diwujudkan dengan hal yang membahagian, cinta itu terkadang terlihat gelap dan pahit, karena cara Tuhan mencintai kita juga tidak selalu dengan memberi yang indah.