Kemajemukan / Perbedaan



PERBEDAAN/KEMAJEMUKAN

Dalam artikel singkat ini saya ingin membahas suatu tema yang sering diperbincangkan di mana-mana yaitu mengenai PERBEDAAN atau KEMAJEMUKAN. Tema ini sering menjadi isu entah dalam negeri, di lingkungan kita sendiri tetapi juga masih sering menjadi tema global. Kemajemukan dalam masyarakat ini sering menjadi masalah sosial atau politik entah itu di dalam atau di luar negeri.

Perbedaan yang saya maksud di sini adalah perbedaan kultur, bahasa, agama, warna kulit, pandangan politik yang banyak menimbulkan persoalan dalam kehidupan bersosial kita karena banyak orang melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang besar dan menentukan eksistensi dan identitas kita dan orang lain di mata kita.

Pandangan saya, seharusnya perbedaan itu tidak harus menjadi perdebatan panjang karena pada dasarnya kita semua dilahirkan berbeda, berbeda dengan saudara kita, bahkan berbeda dengan orang tua (yang melahirkan kita). Eksistensi kita sebenarnya ada pada perbedaan itu. Kita akan "terlihat" kalau kita berbeda, kita tidak terasa spesial kalo kita semua sama.

Saat datang di Jerman saya melihat secara jelas bahwa dunia/bumi ini besar, besar bukan dalam arti fisik tapi besar karena kemajemukan yg besar yang tidak pernah saya lihat sebelumnya atau bahkan tidak saya kenal sebelumnya.

Perbedaan pertama pada kultur, hampir semua yang saya kenal memiliki kultur berbeda-beda. Agama, beragama atau tidak mereka tetap bisa hidup dengan tidak membeda-bedakan itu. Banyaknya orang asing yang datang dan hidup di negeri ini membuat perbedaan itu “terlihat” jelas secara fisik, misalnya warna kulit, ukuran badan dan hal fisik lain yang saya lihat justru membuat warna indah di negeri ini. Kemajemukan itu bahkan tidak hanya berupa hal-hal fisik tapi juga kemajemukan dalam pandangan hidup. Tapi yang menarik adalah mereka tidak terlihat berbeda, mereka nyaman dengan kehidupan mereka dan tidak mengganggu ataupun terganggu dengan kehidupan orang lain.

Setiap dari kita memiliki perbedaan dengan orang lain, dan itulah keunikan kita. Setiap kita memiliki kelebihan dan kekurangan, dan kita harusnya saling melengkapi.

Orang-orang begitu sibuk mempersoalkan perbedaan fisik, agama, asal, ras. Seolah-olah dia lebih baik dari orang lain, lebih menarik atau lebih benar, atau saya tidak lebih menarik dari mereka, karena itu saya harus terisolasi dari mereka.
Saya merasa ada hal yang lebih krusial dari pada perbedaan fisik itu, yang seharusnya menjadi bahan "perdebatan" di antara kita. Misalnya sebagai orang yang mengaku beragama, apakah kita benar-benar orang yang beragama? Kenapa kita sama-sama mengaku beragama tapi memiliki gaya hidup yang berbeda? Yang satu memiliki gaya yang sederhana dan yang satu sangat menyenangi gaya hedonisnya. Kenapa justru membingungkan agama yang lain? Bukankah kita yang berada pada agama yang sama harusnya memiliki sikap hidup yang kurang lebih sama? Mengapa kita suka iri dan senang melihat kesusahan orang lain dan kita mengaku beragama?

Ketidakselarasan antara apa yang dia percayai (ajaran agamanya) dan gaya hidupnya? Bukankah itulah yang pertama harus ditangani? Perbedaan gaya atau cara hidup dalam jemaat itulah yang bukannya harus disamakan?

"Perbedaan status sosial". Secara explisit kita sampaikan "aku menentang rasis". Kita mungkin mengaku bukan pelaku rasis tapi kita secara tidak langsung melihat orang-orang yang berbada di atas kita secara spesial, memperlakukan mereka dengan spesial dan sebaliknya orang-orang yang di bawah kita kita angggap rendah dan tidak harus dihormati. Kita berlebihan menghormati atasan, kita sangat baik pada orang-orang yang kita kenal berpendidikan tinggi, status pekerjaan dan materi yang banyak dan menganggap mereka spesial sementara yang di bawah sering dianggap remeh dan tidak begitu antusias ketika bertemu. Cara ini saya anggap rasis secara modern.

"Perbedaan-perbedaan fisik" kita lihat dengan lup (kaca pembesar), di mana semua hal fisik dan materi itu terlihat besar tapi “persamaan” bahwa kita sama-sama manusia kita lihat dengan mata yang rabun.

Pada intinya kita adalah orang-orang unik dan spesial di mata Pencipta kita. Tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk. Yang ada apakah kita makhluk yang mencintai Tuhan dan sesama? Disitulah hakikat kita sebagai manusia.


By. Esther Lumintang 

0 Comments