![]() |
| Pinterest.com |
Membaca adalah jendela dunia. Sepertinya semangat untuk
melihat dunia masih perlu distimulasi khususnya di negara kita. Sebuah penelitian berjudul "Most
Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University terkait
minat baca menempatkan Indonesia di posisi 60 dari 61 negara, setingkat di atas
Botswana (Afrika Selatan) dan berada di bawah Thailand (59).
Meskipun dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat
Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia
sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya
1 orang yang rajin membaca.
Najwa Shihab (Duta Baca Indonesia 2016-2020) mengatakan "Angka
minat baca orang Indonesia makin lama semakin mengkhawatirkan. Saya merasa agak
stress ketika diberi tugas (duta baca) ini karena angka-angka menunjukkan
betapa kita masih sangat kalah ketika kita bicara minat baca. Anak Eropa mempunyai
kemampuan membaca dalam setahun rata-rata 25 buku (daya baca), anak Singapura
dan Jepang 17 buku per tahun, anak Indonesia 0 buku".
Mungkin bukan menjadi pertanyaan lagi mengapa pengetahuan dan wawasan sebagian besar anak muda di negara kita masih rendah dibandingkan dengan generasi muda di negara-negara maju. Minat dan keingintahuan sebagian besar kita terhadap banyak hal masih sangat kurang.
Mungkin bukan menjadi pertanyaan lagi mengapa pengetahuan dan wawasan sebagian besar anak muda di negara kita masih rendah dibandingkan dengan generasi muda di negara-negara maju. Minat dan keingintahuan sebagian besar kita terhadap banyak hal masih sangat kurang.
Jerman, salah satu
negara dengan tingkat minat baca yang tinggi (menurut data literasi negara
dunia) dari pengamatan saya, saya menyimpulkan ada faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca masyarakat
di negara kita jika dibandingkan dengan negara barat seperti Jerman.
1. Kebiasaan
Anak-anak disini terbiasa sejak kecil sebelum tidur
dibacakan cerita melalui buku anak-anak oleh orang tuanya. Buku sudah
diperkenalkan sejak balita oleh orang tua mereka. Banyak buku-buku yang menarik
dan sangat kompatibel (disesuaikan dengan umur) dengan anak-anak disediakan di
negara ini. Mereka diajak untuk bisa
bermain dengan buku-buku yang berisi tentang informasi ringan dalam bentuk
gambar dan cerita-cerita kebaikan yang dikemas untuk menarik perhatian
anak-anak. Tidak heran mereka bertumbuh dengan menyukai buku dan terbiasa
dengan buku.
![]() |
| schleswig-hostein.de |
Dalam banyak waktu luang orang-orang disini mengisinya dengan
membaca termasuk di tempat-tempat umum terlihat hampir di mana-mana orang-orang
mengisi waktu misalnya saat menunggu atau saat duduk di kereta dengan membaca.
2. Keinginan belajar
Melalui membaca kita bisa mengetahui banyak hal, mengenal
banyak hal, terampil dan menguasai banyak hal. Termasuk keinginan mengembangkan
diri dalam hal emosional dan spiritual dapat terfasilitasi melalui membaca. Salah
satu faktor yang menyebabkan angka penjualan buku-buku di sini tinggi yaitu
karena keinginan belajar masyarakat yang tinggi. Rendahnya keinginan orang untuk belajar dan mengembangkan diri salah satu yang menyebabkan motivasi membaca di negara kita masih rendah.
3. Lebih menyukai hal-hal yang ‘menyenangkan’
Meskipun membaca juga sebenarnya bisa menjadi kegiatan
yang menyenangkan tapi sepertinya kegiatan-kegiatan lain seperti shopping,
jalan-jalan, main game, nonton, sibuk dengan media sosial dan kegiatan lain
yang terkesan berada pada zona nyaman sepertinya masih menjadi hobby sebagian
besar anak muda kita. Kenyataannya saya melihat orang-orang disini membaca
bukan karena keharusan tapi karena mereka menyukainya.
4. Kemalasan
Banyak orang yang secara sadar mengetahui pentingnya
kebiasaan membaca tapi tidak mau atau mungkin tidak mampu untuk
mengaplikasikannya karena malas, cenderung untuk lebih memilih berdalih untuk
tidak melakukannya karena lebih ingin berada di zone nyaman dan menikmati hal
lain yang lebih mudah.
5. Fasilitas
Saya masih sulit menjelaskan bagaimana fasilitas membaca
bisa memberi pengaruh pada kurangnnya minat membaca kita karena pada zaman
sekarang, mendapatkan informasi tidak harus melalui buku-buku tetapi juga melalui
internet tersedia semua informasi yang kita butuhkan. Jika kita setiap hari
bisa aktif dengan media sosial seperti facebook dll kenapa untuk membaca di
internet tidak bisa? Selain itu program pemerintah yang mengefektifkan dana
bantuan operasional yang memprioritaskan fasilitas dan buku-buku di
perpustakaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak punya minat membaca.
Salah satu program pemerintah Indonesia untuk menumbuhkan minat baca adalah
digitalisasi buku. Semua orang bisa membaca buku dengan banyak pilihan secara
online dan praktis. Hanya perlu mendaftar.
6. Tidak tau arti pentingnya membaca
Ada istilah yang mengatakan bahwa lebih parah orang yang
mengetahui tapi tidak melakukan, dari pada tidak mengetahui dan tidak
melakukan. Dalam hal ini mungkin masih banyak dari kita yang mungkin masih
belum sadar atau mungkin belum tau bagaimana pentingnya membaca sampai ini
(sedikit) mempengaruhi angka minat membaca di negara kita. Meskipun saya rasa
hampir semua orang sudah mengetahui pentingnya membaca itu.
Saya bukan orang yang
‘sangat suka’ dan terbiasa sejak kecil membaca, tapi saya mengubah gaya hidup
untuk terbiasa dengan tulisan karena saya sadar, membaca memperkenalkan saya
terhadap banyak hal, mempermudah saya melakukan dan mencapai banyak hal, saya
ingin mencapai kebijaksanaan, dan hal itu salah satu bisa saya capai melalui
MEMBACA. So let’s do it!
By. Esther Lumintang




0 Comments