Kehidupan sosial adalah kehidupan di mana manusia hidup dengan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Saya membagi definisi kehidupan sosial yaitu secara konservatif dan secara modern. Interaksi secara emosional dan dalam rangka saling mendukung untuk bertahan hidup, mendapatkan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan emosi (makhluk sosial) mungkin bisa didefinisikan sebagai motif interaksi sosial konservatif. Secara modern, kehidupan sosial yang saya amati terjadi pada masyarakat mungkin lebih berat pada terbentuknya interaksi sosial bukan hanya dalam hal memenuhi kebutuhan alami manusia sebagai makhluk sosial tapi motif-motif tertentu seperti mencari popularitas, pengakuan, untuk dihormati dan menonjol dalam komunitas tertentu cenderung menjadi motif yang paling menonjol.

 

Saya melihat, kebanyakan masyarakat timur hidup dengan banyak terikat dengan komunitas sosial seperti ‘kumpulan’, organisasi ini itu entah itu dalam komunitas agama, komunitas bermasyarakat, pertemanan dengan kegiatan atau aksi-aksi dan program-program tertentu. Sementara di negara barat sangat jarang terdengar ada komunitas-komunitas seperti itu. Negara barat yang kita kenal sebagai “kaum individualis” atau dalam hal ini dianggap bahwa mereka cenderung hidup dengan lebih berfokus pada kehidupan pribadinya.

Fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosial modern masyarakat timur memperlihatkan bahwa motivasi awal bahwa keterlibatan dalam mengikuti kegiatan-kegiatan agama, organisasi-organisasi dalam masyarakat, memiliki posisi tertentu dalam organisasi adalah bagian dari membangun relasi yang baik dan kedekatan dengan orang lain tapi juga memperjuangkan atau menghasilkan ide-ide dan kegiatan yang memiliki impact sosial kepada masyarakat lainnya. Hal-hal tersebut memang positif dan sangat mendukung nilai-nilai universal sebagai makhluk sosial, dan ini cenderung menjadi keunggulan kita dari masyarakat barat yang dikenal sangat sedikit memiliki ‘perilaku sosial’ ini.

Saya menyayangkan bahwa ternyata motivasi-motivasi tersebut bukan lagi menjadi motivasi utama dari keterlibatan sosial masyarakat timur modern saat ini. Perlahan, motif-motif seperti mencari popularitas, untuk dikenal, mendapatkan pengakuan, mendapatkan posisi tertentu, dekat dengan kalangan atas atau terjamin secara materi sepertinya saat ini mengubah motivasi positif tadi. Kita yang mengaku peduli dengan kehidupan orang lain ternyata senang ketika melihat mereka susah, kita yang mengaku tergabung dalam kegiatan beragama ternyata sangat sulit merelakan waktu, tenaga atau materi untuk orang yang berkesusahan, kita senang ketika mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain, kita bergaul dengan orang yang memiliki status sosial sama atau lebih dari kita sementara mereka yang di bawah kita tidak perlu dihormati atau disepelehkan, kita akan bersemangat bergabung dalam komunitas tertentu kalau kita mendapatkan keuntungan dari situ atau kita mau membantu orang demi mendapatkan pernghargaan atau kedudukan tertentu atau mungkin kita melakukan aksi sosial yang mengatasnamakan gereja atau agama tertentu tetapi justru dengan motivasi kepentingan pribadi.
Hal seperti itu mungkin yang bisa disebut sosialistis yang egosentris yang berarti bahwa sikap egosentris yang dimanipulasi sehingga terlihat sangat sosialis.

Sangat paradoks dengan masyarakat barat yang kita sebut atau sering diasumsikan cenderung individualisitis tapi saya justru melihat nilai-nilai kemanusiaan mereka dalam hal tertentu seperti hubungan keluarga, tetangga, rekan kerja dan orang lain yang mereka kenal dan temui justru terlihat lebih bernilai dan tulus dibandingkan dengan gaya hidup timur yang terlibat kegiatan sosial ini itu tapi ternyata tidak ada ketulusan dalam aksi sosial itu. Bagi mereka, memiliki hubungan baik dengan kolega kerja, tetangga, keluarga dan ramah terhadap orang yang ditemui itu sudah cukup tanpa harus ekstra tergabung dalam organisasi atau komunitas tertentu. Mereka meyakini bahwa eratnya hubungan secara emosional dengan orang-orang terdekat mereka adalah bagian dari interaksi sosial yang bernilai. Mereka membangun relasi yang kuat dengan istri, suami, orang tua dan anak-anak dengan bertitik tolak pada nilai-nilai kehidupan dan motivasi ingin memberikan didikan yang terbaik dan keteladanan pada anak-anak misalnya atau mungkin kepekaan yang tinggi dalam melihat kebutuhan tetangga mereka, membantu dengan tulus, membina kedekatan emosi dengan tidak memiliki kepentingan pribadi atau melihat status sosial, mereka bisa bergaul dengan siapapun tanpa membeda-bedakan status sosial.


Saya menganggap perilaku ini sebagai paradoks kehidupan sosial masyarakat timur dan barat di mana kehidupan sosial masyarakat timur lebih terlihat menitikberatkan pada seberapa besar keterlibatan sesesorang pada kegiatan-kegiatan, komunitas dan organisasi tertentu sementara mungkin orang yang tidak ‘bergaul’ dalam komunitas tersebut mungkin dianggap ‘kurang bersosialisasi’ atau ‘kurang gaul”. Kenyataannya, banyak mungkin dari kita yang lebih berfokus pada kegiatan sosial diluar sementara hubungan dan interaksi dalam keluarga sendiri belum tertata rapih, kurangnya waktu antara orang tua dan anak untuk berinteraksi dan memberikan pendidikan informal terbaik justru kurang. Kita bangga terhadap relasi yang kita bangun diluar sana atau mungkin hubungan ‘pertemanan’ di media sosial yang masiv dan aktif berkomunikasi dengan mereka sementara dengan orang terdekat kita justru kita sulit berkomunikasi dan saling peka.

Hal kontras terjadi pada kondisi sosial masyarakat barat. Gaya hidup yang kita kenal sebagai individualis teryata lebih memiliki perilaku sosial yang tinggi. Keterlibatan dalam komunitas formal sosial bukan menjadi standar mereka untuk dikatakan hidup secara sosial tapi respek dan penghormatan terhadap orang lain secara tulus masih lebih penting bagi mereka. Mereka lebih berforkus bukan pada kuantitas yaitu sedikit atau banyaknya relasi yang mereka bangun tapi pada kualitas hubungan dengan orang terdekat dan orang sekitar. 

 By. Esther Lumintang

"Majulah tanpa menyinkirkan orang lain, naiklah tinggi tanpa mejatuhkan orang lain, berbahagialah tanpa menyakiti orang lain"