beritajatim.com

Dalam acara Mata Najwa pada bulan Januari 2016 lalu mengundang beberapa orang Indonesia yang sempat menempuh studi di Praha (Ceko), memulai karir di sana sampai harus berdomisili dan menghabiskan sisa hidup di sana karena tidak bisa diizinkan lagi untuk kembali ke negeri sendiri atau kasarnya dicabut hak kewarganegaraannya sebagai warga Indonesia dengan alasan politik dan birokrasi yang bermasalah pada waktu itu,. Sangat miris karena mereka yang pada saat itu berangkat keluar meninggalkan negeri dengan tujuan akhir kembali untuk membangun negeri ternyata harus menerima penolakan dari negeri sendiri. Dalam hal ini negara pada waktu itu lebih terlihat melindungi para pemegang jabatan dan mengabaikan generasi muda yang memiliki kualitas dan peluang baik memajukan status bangsa pada saat itu.
 
Salah satu cerita tersebut menghubungkan cerita yang pernah saya dengar pada beberapa orang hebat yang sebagian besar menempuh studi di luar negeri dalam hal ini negara-negara maju tapi pada akhirnya tidak kembali ke negeri sendiri melainkan berkarya dan menetap di negara lain karena tidak bisa diterima di negara sendiri, atau dengan kata lain ilmu mereka tidak dipandang penting oleh negara sendiri. Kebanyakan orang yang bisa survive di negeri orang, boleh bertahan dan menempuh proses studi di negara maju, harus bekerja lebih keras karena tantangan dan aturan yang sangat berbeda dengan negara sendiri. Untuk menjadi hebat, mereka harus berjuang dan membayar harga yang mahal. Orang-orang ini membayar harga mahal untuk keberhasilan mereka. Ketika standar tinggi boleh dilalui dan dicapai, seharusnya penghargaan yang setimpal juga layak didapatkan.

Salah satu orang Indonesia yang sempat berdiskusi dengan saya di sini yang kebetulan juga bekerja di negara ini, sempat menyampaikan isi hatinya, bagaimana mereka hampir lupa untuk kembali ke negeri sendiri karena begitu didukungnya karir dan pengembangan dirinya dalam bidang ilmu yang ia tekuni di negara ini. Singkatnya bahwa ia dihargai secara finansial yang layak dan didukung dalam pengembangan ilmu dan karirnya sesuai dengan apa yang dia capai. Ketika orang melakukan pekerjaannya dengan benar dan tekun, orang itu akan dipandang bernilai dalam pekerjaannya. Kehawatirannya untuk kembali ke Indonesia bahwa ia tidak tau apakah ada dukungan dan penghargaan yang wajar yang bisa ia dapat. “Saya tidak tau bagaimana saya harus berkembang jika saya hanya dipandang saat saya berjalan pada politik yang salah, sementara saat mencoba melakukan yang benar saya seperti merasa diserang dan terancam untuk kehilangan jabatan. Itu pengalaman saya”.

Semua hal yang dipelajari dan didapatkan pada waktu studi di luar seperti terasa tidak terpakai saat semua menuntut untuk mengikuti segala macam birokrasi dan kepentingan petinggi-petingginya. Belajar banyak ilmu dan teori yang tinggi kadang tidak dilihat oleh negara sendiri sebagai sesuatu yang bernilai.
Dengan fonis tidak mencintai negara, cenderung egois, mereka menjadikan itu sebagai serangan pada orang-orang hebat yang sebenarnya ingin kembali ke kampung halaman. Hanya karena kekhawatiran untuk tidak dianggap dan tidak bisa hidup dengan layak pada akhirnya orang-orang hebat itu memilih untuk berkarya untuk negara lain.

Paradoksnya, negara menganggarkan dana yang cukup tinggi untuk membayar para “Dewan yang disebut mewakili rakyat” sementara untuk memperhatikan dan menghargai karya orang-orang yang berhasil mengubah bangsa, mendidik orang-orang dengan tulus cenderung minim bahkan hampir tidak terlihat.
Salah satu isu yang belum lama saya dengar di mana Presiden Jokowi berencana akan menarik orang-orang Indonesia yang hebat yang berkarya di luar negeri untuk kembali ke negeri sendiri dan bekerja untuk negara ini. Saya rasa itu kebijakan berani dan brilian untuk awal membangun kembali negara ini.
Banyak orang-orang Indonesia yang hebat entah di dalam atau di luar negeri yang tidak dihargai dan tidak terfasilitasi untuk berkembang hanya karena para pemimpin dan pemegang kepentingan yang menutup rapat pintu untuk karya-karya positif dari orang-orang tulus yang ingin terlibat membangun negeri. Indonesia masih butuh orang-orang pintar, Indonesia butuh orang-orang yang hebat bukan dalam berbicara dan berwacana, Indonesia butuh orang-orang yang mampu membawa negara ini lebih bermatabat dengan kecerdasan, kejujuran, tanpa kepentingan pribadi, tulus dan berdedikasi untuk negeri dan bangsa.

By. Esther Lumintang