Ada beberapa perbedaan yang menjadi perhatian saya saat mengenal, bergaul atau mengamati gaya hidup atau perilaku sebagian besar generasi muda yang saya temui dan lihat disini. Hal yang menonjol itu membawa pikiran saya untuk membandingkan dengan apa yang saya lihat di negeri saya. Seperti yang tertullis pada bagian atas blog ini bahwa ini hanya sebatas opini saya dan pengalaman yang saya temui dan saya tidak bermaksud menggeneralisir atau menfonis bahwa pihak tertentu lebih unggul atau lebih baik. Orientasi saya hanya untuk menggambarkan dan memaparkan sedikit analisa saya dan mengajak pembaca untuk sedikit merenungkan pesan positif yang terkandung dalam tulisan ini yang mungkin bisa  bersifat informatif dan persuasif untuk suatu tindakan positif.
Beberapa paradoks gaya hidup dan fakta generasi muda barat dan timur.

1.   Kemandirian
iqamacheck.com
Mungkin sudah banyak yang mendengar bahwa sebagian besar anak-anak barat yang memasuki usia 18 tahun mulai memikirkan bagaimana ia harus menghidupi dirinya sendiri dan kemana ia harus tinggal. Kemandirian memang sudah dilatih sejak kecil yang berefek pada usia di mana mereka sudah di sebut dewasa, dalam hal ini mulai dari 18 tahun, mereka diizinkan atau bahkan “diharuskan” untuk sebisa mungkin bisa menghidupi diri sendiri, seperti memiliki ‘pekerjaan’ sampingan, tinggal di apartement sendiri (terpisah dari orang tua) mereka sudah harus bisa independen dalam hal ini mengorganisir keperluan pribadi secara sendiri. Status sosial orang tua tidak begitu memberikan pengaruh signifikan terhadap kehidupan pribadi anak dalam hal ini kekayaan atau jabatan orang tua tidak secara langsung mempermudah kehidupan mereka seperti difasilitasi banyak hal secara materi. Mereka tetap dituntut untuk hidup mandiri, mengusahakan dan memulai karir dan kehidupannya sendiri. Misalnya anak perempuan dari seorang profesor tidak secara langsung berarti bahwa dia hidup dengan gaya hidup mewah atau sekolah di sekolah mahal, dia tidak secara instan mendapatkan apa yang dia inginkan. Paradoks dengan pengalaman saya di negara saya sendiri. Umur ‘yang disebut dewasa’ tidak menjamin seseorang bisa hidup secara mandiri. Ketergantungan yang tinggi terhadap orang tua mungkin salah satu alasan yang membuat kita yang di sebut dewasa tapi kenyataannya sangat bergantung bahkan memanfaatkan secara berlebihan fasilitas dari orang tua. Anak yang dengan orang tua yang status sosialnya tinggi dalam hal ini pendidikan, jabatan, atau materi yang tinggi cenderung memiliki gaya hidup komsumtif atau hedonis atau mungkin terbiasa dengan hal instan. Dalam hal ini keberadaan orang tua sangat mempengaruhi eksistensi anak dalam lingkungan dan kehidupan pribadinya. Meskipun kenyataannya banyak juga anak muda yang karena ‘gengsi’ cenderung memaksakan untuk bisa hidup ‘stylish dan modern’ meskipun mereka sadar bahwa secara finansial mereka atau orang tua tidak mampu.
 
2.   Gaya Hidup
vemale.com
Mengutip salah satu artikel yang membahas tentang gaya hidup anak muda urban di Indonesia. “Seorang sosiolog bernama Charles Horton Cooley menjelaskan sebuah konsep jitu bernama Looking Glass Self. Penjelasan sederhana dari konsep ini adalah Aku adalah apa yang kamu pikirkan tentang diriku. Artinya, seseorang akan mendefinisikan identitas, self esteem dan juga segala hal yang berkaitan tentang dirinya sendiri dari sudut pandang orang lain. Dengan alur berpikir yang demikian, sampai kapanpun  sebetulnya ia akan sulit menjadi dirinya sendiri karena seringnya bergantung pada penilaian orang lain.
Perspektif yang berkembang bahwa eksistensi seseorang itu dinilai dari gaya hidupnya dalam hal ini penilaian orang lain tentang dirinya. Apakah gayanya modern? Apakah dia punya materi atau style yang menarik? Anak muda urban misalnya senang makan di restaurant mahal demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, mereka rela mengeluarkan uang berjuta-juta demi mendapatkan pakaian, tas, sepatu yang mengikuti trend atau terlihat mewah di mata orang lain. Intinya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain mereka rela mengeluarkan banyak uang dan bergaya meskipun itu tidak selaras dengan keadaan finansialnya. Sementara anak muda di sini cenderung bergaya simple, dan lebih menyesuaikan pada keadaan finansialnya. Anak muda yang masih status student tapi juga yang sudah bekerja cenderung memprioritaskan kualitas diri mereka dalam hal prestasi, kualitas emosi dan pencapaian mereka. Dalam hal ini ‘hal yang bersifat seperti style atau hal yang besifat ‘benda’ cenderung bukan jadi prioritas mereka.

3.   Motivasi Belajar
youtubefotos.com
Saya pernah mendengar cerita seorang profesor yang mengajar di salah satu universitas di Jerman, dalam ceritanya dia menggambarkan bagaimana ia harus mempersiapkan jauh-jauh hari kuliahnya dan berusaha sebisa mungkin mengupdate perkembangan dalam bidang ilmunya karena sebagian besar mahasiswanya begitu aktif mencari informasi dan dengan ketertarikan tinggi terhadap ilmu mereka sehingga banyak pertanyaan kritis yang diajukan saat dalam kelas, saking semangatnya mahasiswa begitu tidak sabar menunggu sampai ia diizinkan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan argument. Paradoks dengan apa yang saya dengar dari seorang pengajar di salah satu universitas di Indonesia (tetapi juga pernah menjadi pengalaman saya) bahwa dalam kelasnya sangat sulit untuk bisa melihat pemandangan bahwa mahasiswa begitu bersemangat atau aktif dalam menyampaikan pertanyaan atau argument. Motivasi belajar dan keingintahuan yang rendah mungkin salah satu penyebab kenapa banyak mahasiswa di negara kita  yang masih terlihat kurang kritis dan kurang menguasai bidang ilmunya.
hipwee.com


Meskipun harus diakui bahwa banyak generasi muda Indonesia yang hebat dan berprestasi dan seharusnya mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih dan saya masih percaya setiap dari kita memiliki peluang yang sama besar untuk menjadi orang yang hebat, bijaksana dan mandiri. Itu hanyalah jawaban dari waktu, keinginan dan usaha kita untuk mencapainya.

By. Esther Lumintang